Yuk Coba Wisata Unik di Salah Satu Kota Vietnam, Kota Ho Chi Minh

Memasuki wilayah Kota Ho Chi Minh, wisatawan takkan percaya bila kota ini berada di kawasan negara sosialis Vietnam. Ho CHi Minh (dulunya adalah pemimpin Vietnam Utara) ramai dengan hiruk pikuk. Wisatawan bersua mulai dari pedagang kaki lima hingga pekerja seks berkedok pijat. Gaya hidup di kota Ho Chi Minh bebas saja. Gaya sosialias yang tersisa di mata wisatawan terdiri dari ribuan image Ho Chi Minh, bendera Vietnam maupun lambang partai komunis Vietnam yang beredar di sudut kota. Saat kita ada di tepi jalan, khususnya di sekeliling hotel maupun penginapan, kita pun disodori bermacam-macam jasa pelayanan seks. Jasa tersebut berkedok layanan pijat. Pantauan dari salah satu media terkenal di Indonesia di kawasan ini, mereka terlihat mejeng di beberapa salon yang nyaris di temukan setiap jalan. Sementara turis, menikmati kopi, maupun minuman keras di beberapa cafe.

Para turis ini pasti jadi sasaran guide layanan seks. Jika tertarik, si guide langsung menjelaskan jasa bisa berupa pelayanan seks. Harganya yang semula 300 ribu Dong alias Rp 150 ribu, naik jadi 800 ribu-1 juta Dong maupun Rp 400-500 ribu/jam. Lokasi pelayanan ini bisa diberikan di kamar yang ada di salon, atau segera dibawa ke penginapan. Setiap guide seks ini cukup beragam. Mulai lelaki dan perempuan tua yang kongkow di pinggir jalan, anak muda putri naik sepeda mempromosikan jasa tersebut, sampai si pelayan seks sendiri yang eksplorasi naik sepeda motor.

Bahkan, ada guide yang seharian kongkow di sudut jalan untuk menawarkan para turis yang lalu lalang. Guide ini umumnya wanita muda dengan skill Bahasa Inggris seadanya. “Jadi pekerja seks adalah cara yang cepat jadi orang kaya. Penghasilan Rp. 400 ribu semalam, sudah cukup buat hidup. Tak heran, para pekerja seks disini punya satu sepeda motor yang disini adalah barang mewah,” ujar seorang warga Vietnam pada media swasta.

Di sisi lain, diantara keglamoran itu, beberapa rakyat Vietnam yang miskin, memakai pakaian tradisional, naik sepeda ataupun berjalan kaki, keliling menyuguhkan beberapa produk kerajinan maupun makanan tradisional, kepada turis. Berbeda dengan kaum pelayan seks, mereka ini memburu seribu-dua ribu Dong, yang diperoleh dari menjual topi, kipas, selembar asinan cumi-cumi, dan gantungan kunci. Sedangkan mal dan pasar modern lain dipenuhi pendatang misalnya dari Hongkong, Thailand juga Malaysia. Mereka membuat berbagai toko yang menjajakan pakaian dan barang elektronik yang melulu ramai dikunjungi para turis. “Masyarakat kami sebagian besar yang jadi tukang parkir, pelayan toko, atau pegawai pemerintah yang mengatur keberadaan pertokoan ini,” ujar warga Vietnam itu.